Menaklukan Kreativitas
dalam diri
Setelah saya membaca dan memahami
esai dari Niza Noor Alfiah yang berjudul “Kreativitas Teater Gema Universitas
PGRI Semarang”. Menurut esai Niza seni peran bisa melatih diri kita saat tampil
didepan orang yang banyak. Namun kurang diartikan secara rinci apa dan
bagaimana seni peran tersebut dan juga kreativitas itu seperti apa. Hanya saja
esai tersebut tidak diuraikan secara rinci. Salah satunya seni peran itu mengasah atau menaklukan kreativitas dalam diri kita. Dalam
seni peran kita diharuskan kita menguasai teknik-teknik dan menjadi profesional
layaknya seorang aktor atau aktris. Dalam esai tersebut kurang mengartikan
keseluruhan mengenai seni peran. Padahal seni peran itu seperti seni yang unik
karena letak keindahannya ada peran-peran yang dimainkan. Dalam memainkan seni
peran harus mempelajari bagaimana teknik menciptakan dan memainkan peran yang
dimainkan oleh pemeran dan sebagai seorang tokoh tertentu baik di atas panggung
maupun dalam sebuah film seperti yang ditampilkan oleh UKM Teater Gema
menampilkan pentas drama yang berjudul Jaka Tarub dan monolog Balada Sumarah.
Dalam seni peran harus memunculkan kreativitas dalam diri kita sendiri.
Cerita Jaka Tarub dan monolog Balada
Sumarah itu sangatlah bagus dan membuat penonton terngangah dalam menyaksikan
pertunjukan pentas drama tersebut. Penonton sangat antusiasmengamati
pertunjukan pada malam acara tersebut yang digelar oleh Teater Gema. Namun
tidak semua penonton menyaksikan dengan seksama dikarenakan tempat duduk untuk
penonton membuat ketidaknymanan unyuk menyaksikan pertunjukan tersebut.
Sehingga penonton ada yang berbicara sendiri dengan teman sebelahnya ditambah
pemeran bidadari dalam cerita Jaka Tarub bersuara kurang lantang. Setidaknya
jika pemeran bidadari tersebut berbicara sangat lantang dan keras maka penonton
akan lebih serius memperhatikannya.
Jika kita terjun dalam dunia drama,
akting kita harus bisa mengendalikan diri kita sendiri, memahami diri kita
sendiri baru kita bisa memahami diri orang lain. Dalam seni peran, kita harus
bisa membedakan antara emosi senang, sedih, menangis. Sangatlah tidak mudah
untuk mempelajari adegan tersebut. Tetapi kalau kita berusaha semaksimal mungkin
untuk mempelajari seni peran maka akan sangat mudah. Hanya saja rasa gerogi
saat tampil yang menjadi hambatan karena malu disaksikan oleh banyak orang.
Tapi kita bisa melawan rasa itu dengan menganggap tidak ada orang yang menonton
kita. Berbicara mengenai peran, harus ada kreativitas dalam diri pemeran
tersebut. Dengan ketidakadanya kreativitas maka penonton akan melihat seni
peran itu membosankan bahkan akan menganggap hal yang biasa-biasa saja. Jadi
dalam seni peran harus ada kreativitas dalam diri pameran seperti membuat
lelucon dalam adegan tersebut supaya tidak monoton dan apapun yang tertera
dalam seni harus ada kreativitas dalam diri sendiri. Mengenai penampilan
monolog Balada Sumarah sangat mencekam. Dengan suasana tegang, haru, histeris sehingga
penonton dibawa pada alur cerita Balada Sumarah tersebut. Jika adegan menangis,
penonton akan ikut menangis. Saya apresiasikan mengenai UKM Teater Gema
menampilkan cerita Jaka Tarub dan monolog Balada Sumarah. Tidak luput dari
orang-orang yang berada dibelakang panggung yang mampu menyukseskan acara
tersebut. Seharusnya pada era globalisasi anak muda harus dibumbuhi seni peran
seperti ini.
Davi Ul Khasanah
15410272
3F
Tidak ada komentar:
Posting Komentar